JS Financial News - шаблон joomla Новости
Jumat, 17 Agustus 2018

 

KARAWANG, KABARSEBELAS.COM - Permasalahan sungai citarum di Kabupaten Karawang perlu perhatian serius dari Pemerintah darah kabupaten Karawang maupun Provinsi Jawa Barat, pasalnya hingga saat ini terdapat ekploitasi tanah sungai Citarum yang di jual belikan oleh oknum masyarat seperti yang terjadi di wilayh Kecamatan Rengasdengklok Dan Kecamatan Jayakerta. (01/08/18).

 

Walaupun sudah ada larangan soal ekploitasi tanah di bantaran sungai citarum oleh Kodim 0406 Karawang namun masih ada saja oknum masyrakat yang melakukan ekploitasi tanah di bantaran sungai tersebut. Padahal sosialisasi tersebut berangsung lama bahkan di acara rapat minggonpun para babinsa  selalu menyampaikan  bahwa sungai citarum kini menjadi perhatian serius pemerintah pusat seperti saat ini yang programnya CITARUM HARUM.

 

Pemulihan sungai citarum ini akan berlangsung selama 7 tahun dan airnya dapat digunakan oleh masyarakat sebagai mana mestinya. Akan tetapi hingga saat ini masih terjadi masyarakat yang usil seperti membuang sampah ke sungai citarum, ekploitasi tanah yany di jual belikan dan ada juga masyarakat yang memanfaatkan tanah di bantaran sungai citarum untuk bahan baku batu bata sebagai mata pencahariannya.

 

Adanya hal tersebut perlu tidakan dan engawasan dari pemerintah daerah dan pemerintak privinsi agar Perusahaan yang membuang limbah ke sungai dapat ditidak tegas dan begitu juga dengan masyarakat yang melakukan ekploitasi untuk kepentingan pribadi tanpa memperhatikan kondisi tanggul yang semakin lama semakin mengecil sehingga rawan bencana  banjir.

 

Menurut ketua Dewan Pimpinan Pusat Lenbaga  Pencinta Lingkungan Hidup (DPP-LPLHN) bahwa tanah yang ada di bantaran sungai citarum tidak boleh di ekploitasi dikarenakan akan berdampak fatal bagi masyarakat, menurutnya tanah yang ada di tanggul/bantaran sungai citarum semestinya ditanami palawija sedangkan pupuknya menggunakan pupuk organik sehingga harga ual lebih tinggi.

 

“saya kira perlu alih pungsi tanah sungai citarum bagi masyarakat yang menggunakan tanah tersebut untuk di ekploitasi dan harus ada pencegahan yang lebih serius dari pemerintah. Saya sangat mendukung bahwa tanah tersebut ditanami palawija menggunakan pupuk organik sehingga harga jualnya lebih tinggi” kata Wahyudin saat di hubungi via telphon seluler. (01/08/18).

 

Selain itu iapun menjelaskan bahwa biaya untuk pertanian palawija di bantaran sungai citarum bisa menganggarkan dari pemerintah daerah dan dari provinsi “tinggal dianggarkan oleh pemerintah, dan hasinya bisa ditampung oleh pemerintah melalui dinas pangan” tuturnya.

 

Selain itu iyapun menjelaskan perlu terus menerus pemerintah darah untuk melakukan sosialisasi dan sekaligus di praktekan dilapangan agar tanah citarum yang ada di karawang tidak di ekploitasi seperti saat ini yang terjadi di kecamatan Jayakerta dan Kecamatan Regasdengklo.

(Dmn)

Statistik Pengunjung

7389227
Hari ini
Minggu ini
Semuanya
1171
46997
7389227
IP Anda: 54.225.57.230

Facebook