JS Financial News - шаблон joomla Новости
Rabu, 13 Desember 2017

BEKASI, KABARSEBELAS.COM -- Tercemarnya Kali Busa di Desa Satria Jaya, Kecamatan Tambun Utara, sejak beberapa tahun silam, membuat warga semakin geram.

 

Memuncaknya keresahan warga sekitar terjadi ketika aliran air Kali Busa dipenuhi gumpalan busa yang naik keatas hingga kebadan jalan pada Jumat (3/11/2017) lalu.

 

"Udah bertahun-tahun begini, nah ini puncak terparahnya. Lihat saja busa nya naik tinggi," kesal Jony, warga sekitar Kali Busa.

 

Setelah mendengar kegeraman warga sekitar Kali Busa, membuat pihak Pengendali Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan meninjau lokasi Kali Busa beberapa waktu lalu.

 

"Kami verifikasi (Tanggapi) laporan masyarakat di Perumahan Satria Pesona atas pencemaran sungai di depan rumah warga (Kali Busa). Kita ingin buktikan tercemar atau tidak. Kita ambil sampel air di depan perumahan," ungkap Isa Ansori, Staf Ditjen Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan.

 

 

Pihaknya juha belum mendapat kepasatian atas gumpalan busa tersebut berasal dari sumber mana, karena masih banyak kemungkinan penyebab berbusa air kali itu, diantaranya limbah perumahan, limbah domestik, usaha skala kecil dan industri.

 

"Kita belum bisa buktikan dari mana. Kita ambil sampel, kita konventarisir sumber pencemaran apa. Apa dari penduduk, usaha kecil atau industri,"  bebernya tegas.

 

"Mereka (industri) harus mengendalikan (soal limbah, Red) sebelum mendirikan. Ada izin membuang limbah, mereka harus memenuhi baku mutu. Kalau sudah dipenuhi kemungkinan pencemaran berkurang," sambungnya.

 

Lalu, mengenai limbah rumah tangga dan usaha kecil yang tidak mempunyai izin menjadi perhatian Kementrian Lingkungan Hidup (LH) dan Perhutanan. "Kita akan tindak lanjut, rekom ke tingkat dua untuk usaha pengelolaan terhadap sungai ini," imbuhnya. 

 

Busa yang muncul tersebut, sambung Isa, jadi menimbulkam dampak akumulatif dari lingkungan. "Ini namanya lingkungan, dampaknya akumulatif. Ada yang sumber perumahan, domestik, usaha skala kecil. Bercampur jadi satu," ucapnya.

 

Dirinya juga menebak, bahwa tidak menutup kemungkinan hal itu juga disebabkan olej penumpukan limbah deterjen dari berbagai sumber.

 

 

"Sampai sekarang, secara nasional, deterjen kita belum mudah terdegradasi. Kalau sekarang masyarakar tidak mengelola deterjen akn timbul dampak. Salah satunya muncul busa seperti itu. Dia langsung berbentuk busa," tandas dia. (Kuh)

Statistik Pengunjung

5597962
Hari ini
Minggu ini
Semuanya
4665
22827
5597962
IP Anda: 54.221.93.187