JS Financial News - шаблон joomla Новости
Senin, 24 September 2018

JAKARTA, Kabarsebelas.com - Ketua Plt Subkomite Kecelakaan Udara KNKT, Kapten Nurcahyo Utomo, mengatakan KNKT telah merilis hasil investigasi dari jatuhnya pesawat AirAsia QZ8501 di Selat Karimata. Dari hasil temuan dan analisis, KNKT pun memiliki rekomendasi terhadap pihak-pihak terkait. Namun, penyebab jatuhnya pesawat buatan Airbus dari Prancis ini sudah dipastikan bukan dikarenakan faktor cuaca atau pun masalah perizinan.


Saat pesawat rute Surabaya-Singapura tersebut hilang kontak pada 28 Desember 2014 lalu, sempat ada spekulasi bahwa pesawat mengalami insiden karena terjebak di awan cumulonimbus.


"Dari flight  data recorder (FDR) yang kita analisa, kita tidak melihat ada indikasi faktor cuaca dalam kecelakaan ini atau sebagai yang berkontribusi dalam kecelakaan ini jadi kita menyatakan bahwa faktor cuaca tidak berpengaruh," katanya, Selasa (1/12), saat acara jumpa pers, di Kantor Kemenhub, Jakarta.


Hal ini juga menyatakan permasalahan slot izin yang sempat dipermasalahkan juga bukan menjadi faktor penyebab kecelakaan. Retakan solder pada electronic module di RTLU (rudder travel limiter unit) menyebabkan hubungan yang berselang dan berakibat pada masalah yang berkelanjutan dan berulang.


KNKT pun merekomendasikan kepada Airbus agar memperbaiki kualitas komponen yang ada di pesawat.
Dalam hal ini adalah RLTU yang ternyata riskan rusak akibat seringnya mengalami perubahan cuaca suhu yang ekstrem dari dingin ke panas, dan juga sebaliknya.


"RLTU adalah bagian dari sistem kemudi pesawat," ujarnya.


Sementara itu, faktor kedua yang berkontribusi adalah sistem perawatan pesawat dan metode analisa di perusahaan, dalam hal ini AirAsia, yang belum optimal. Di mana dalam hal ini adalah tidak adanya aturan pilot melaporkan setiap kerusakan atau permasalahan saat penerbangan sehingga menjadikannya tidak terselesaikan dan terus berulang.


Nurcahyo, menjelaskan sehingga tidak dapat mendeteksi kerusakan berulang-ulang dan interval kerusakan makin sering. Dari catatan sudah terjadi kerusakan yang sama sebanyak 23 kali selama satu tahun pada pesawat itu.


"Hal lain yang menjadi faktor jatuhnya QZ8501 adalah pilot yang melakukan improvisasi. Ini dilakukan setelah 3 kali melakukan perbaikan sesuai prosedur, gangguan RLTU kembali terjadi," ujarnya.


Oleh karena itu, improvisasinya adalah dugaan pilot me-reset ulang circuit breaker (CB) dari flight augmentation computer (FAC). Terputusnya arus listrik pada FAC menyebabkan autipilot disengage, flight control logic berubah dari normal ke alternate law, rudder bergerak 2 derajat ke kiri. Kondisi ini mengakibatkan pesawat berguling (roll) mencapai sudut 54 derajat.


Nurcahyo, mengungkapkan adanya semacam miskomunikasi termasuk bagaimana kedua pilot tidak bisa saling mengetahui apa yang sedang dilakukan saat recovery juga menjadi faktor yang berkontribusi dalam hal ini. Itu dikarenakan sistem kendali 2 kemudi yang tidak saling terkait, sehingga saat keadaan genting pilot dan kopilot sama-sama tidak bisa mengetahui apa yang sedang dilakukan oleh pihak lain.


"Kalau ada input pada kendali secara bersamaan maka akhirnya jadi penjumlahan. Bila ditarik 5 dan didorong 5 hasilnya jadi 0. Ini yang menyebabkan kekosongan input dan menyulitkan pilot karena tidak tahu sebelah melakukan apa," tegas Nurcahyo. (dade)

Statistik Pengunjung

7469986
Hari ini
Minggu ini
Semuanya
684
7041
7469986
IP Anda: 54.158.199.217

Facebook