JS Financial News - шаблон joomla Новости
Minggu, 22 Juli 2018

JAKARTA, Kabarsebelas.com - Perum Lembaga Penyelenggara Pelayanan Navigasi Penerbangan Indonesia (Perum LPPNPI) atau AirNav Indonesia membantah hampir terjadi tabrakan antara pe-sawat Garuda dengan Lion Air di langit Bali pada Rabu, 10 Februari 2016. “Tidak benar ada peristiwa tersebut. Kami sudah melakukan pengecekan dan pengaturan ketinggian pe-sawat sesuai dengan ketentuan ICAO (International Civil Aviation Organization),” ujar Corporate Secretary AirNav Indonesia, Ari Suryadharma, Jumat (12/2), saat pers riliis  di Jakarta.


Disampaikan Ari, sesuai ketentuan ICAO, dalam pengaturan navigasi penerbangan, ada jarak aman minimum antar pesawat baik batas vertical maupun longitudinal.

“Untuk batas ketinggian antar pesawat itu namanya Reduced Vertical Separation Minima atau RVSM, yaitu 1.000 kaki. Untuk longitudinal separation, bervariasi tergantung type pesawat, ada yang 5 NM, ada yang 10 NM. Pengaturan navigasi penerbangan oleh ATC di seluruh dunia, termasuk Indonesia mengikuti ketentuan tersebut,” kata Ari.


Namun, lanjut Ari, harus dipahami, bahwa pesawat berada di ruang udara dan bukan di atas landasan.

“Pesawat itu kan tidak selalu dia stabil terus di ketinggiannya, kalau ada cuaca buruk, bisa saja ada guncangan, karena pesawatnya di udara bukan di darat. Se-hingga, berdasarkan ICAO Document 4444, ada batasan toleransi + 300 kaki,” ujarnya.


Meski demikian, disampaikan Ari, pengaturan navigasi penerbangan oleh ATC tetap menggunakan batas minimum 1.000 kaki. Pesawat Garuda dengan nomor penerbangan GA 340 dari Surabaya serta Lion Air JT 960 dari Bandung sedang holding menunggu giliran mendarat di Bandara Ngu-rah Rai, Denpasar, Bali.
Ari, mengatakan holding merupakan hal lazim terjadi, bisa disebabkan oleh cuaca buruk atau banyaknya pesawat yang ingin mendarat di sebuah ban-dara.

"Pada saat itu, sedang terjadi cuaca buruk yang mengakibatkan jarak pandang berku-rang. Akibatnya, ada 22 pesawat yang holding menunggu untuk mendarat," ungkap nya.


Bahkan, lanjut Ari, buruknya cuaca sampai mengakibatkan beberapa flight yang holding ada yang divert ke bandara lain, termasuk GA 340 yang memilih Return To Base (RTB) ke Surabaya. Selain itu, beberapa flight yang berangkat dari Denpasar juga mengalami delay karena tidak dapat take off akibat buruknya cuaca. GA 340 dan JT 960 berputar di udara dengan jarak sekitar 1.000 kaki satu sama lain. Garuda berada di ketinggian 17 ribu kaki sedangkan Lion Air berada di ketinggian 16 ribu kaki. Garuda berputar ke arah kanan sementara Lion ke arah se-baliknya.


Sementara itu, jika melihat pergerakan kedua pesawat melalui Flightradar24.com yang banyak ditampilkan media, kesannya hampir terjadi tabrakan.

“Terlihat memang kedua pesawat seolah akan bertabrakan karena putaran berbeda yang dilakukan saat holding. Namun ketinggiannya berbeda. Jadi itu aman,” kata Ari.


Memang, sempat terjadi perubahan ketinggian yang mengakibatkan jarak menjadi kurang dari 1.000 kaki dan membuat TCAS pilot menyala. Namun, penurunan tersebut masih da-lam batas toleransi.

“Cuacanya memang sedang buruk, itu yang diantisipasi oleh ICAO Document 4444, sehingga ada toleransi + 300 kaki. Tapi itu sangat sebentar, hanya be-berapa saat jaraknya sudah kembali 1.000 kaki,” tutur Ari.


Lion akhirnya mendarat di Bali, sedangkan Garuda kembali ke Surabaya karena buruknya cuaca. Karenanya, Ari meminta spekulasi ini untuk diakhiri.

“Data-data menunjukkan semua dalam batas aman, karena itu kami meminta spekulasi ini diakhiri. Kita sudah komunikasi dengan pihak Garuda dan Lion juga, tidak ada masalah sama sekali,” ujarnya.


Oleh karena itu, AirNav juga meminta masyarakat untuk tenang, sebab industri penerbangan diatur oleh peraturan internasional yang sangat ketat. “Apalagi AirNav urusannya adalah safety. Perusahaan kami tidak didiri-kan untuk mencari keuntungan, tetapi menjaga keselamatan penerbangan. Jadi masyara-kat jangan cemas dan kami harap spekulasi ini segera disudahi,” kata Ari.

 


Tentang AirNav Indonesia Perusahaan Umum (Perum) Lembaga Penyelenggara Pelayanan Navigasi Penerbangan Indonesia (LPPNPI) atau dikenal dengan Airnav Indonesia merupakan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang didirikan tanggal 13 September 2012. Airnav Indonesia didirikan sesuai amanat UU Nomor 1 Tahun 2009 tentang Penerbangan dan bertugas menyediakan pelayanan navigasi penerbangan. (dade)

Statistik Pengunjung

7209391
Hari ini
Minggu ini
Semuanya
5268
5268
7209391
IP Anda: 54.224.103.239

Facebook