JS Financial News - шаблон joomla Новости
Sabtu, 18 Agustus 2018

 

JAKARTA,kabarsebelas.com- Kepala Anggooro Kasih selalu dilakukan selalu setiap tiga puluh lima hari sekali, acara tersebut juga dilakukan pada tiap malam Selasa Kliwon. Jadi ini adalah salah satu wahana dari acara penganut kepercayaan tentunya yang pertama, dan kedua yang ada yang di bicarakan saresehankan.


Namun, dalam tiga puluh lima hari setiap malam Selasa kliwon acara tersebut berbeda-beda dalam acara tersebut.

"Yang pertama dalam acara tersebut narsumnya dari dalam adalah Asep Setia Pujanegara ST (Generasi Muda Organisasi Penghayat Budi Daya), dan yang ke dua narsumnya dari luar adalah makna spiritual Pancasila ditinjau dari aspek Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa," kata Direktur Pembinaan Penghayat Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan Tradisi, Dra. Sri Hartini, MM, Senin (18/7) malam, di Sasono Adiroso Pangeran Sambernyowo, TMII Jakarta Timur.


Dalam mengamalkan komitemn etis ketuhanan ini, Pancasila harus didudukkan secara proporsional, bahwa ia bukanlah agama (sesungguhnya) yang berprestasi mengatur sistem keyakinan, sistem pribadat norma dan identitas keagamaan dalam ranah privat dan ranah komunitas agama masing-masing, sarasehan ini melibatkan sekitar 200-300 orang peserta yang terdiri dari berbagai unsur.


Oleh karena itu, Ketuhanan dalam kerangka Pancasila menyerupai konsep "agama sipil" (civic religion), yang bisa melibatkan nilai-nilai moral universal agama-agama, namun juga secara jelas dapat dibedakan dari agama. "Prestasinya adalah bagaimana menjadikan nilai-nilai moral Ketuhanan sebagai landasan pengelolaan kehidupan publik-politik dalam konteks masyarakat multikultur-multiagama, tanpa menjadikan salah satu agama (unsur keagamaan) mendikte negara," ujarnya.


Dia, menjelaskan Ketuhanan dalam rangka Pancasila merupakan usaha pencarian titik temu dalam semangat gotong-royong untuk menyediakan landasan moral yang kuat bagi kehidupan politik berdasarkan moralitas Ketuhanan.

"Namun, dalam kerangka pencarian titik temu ini, Indonesia bukanlah negara sekuler yang ekstrem, yang berpretasi menyudutkan agama ke ruang privat, karena sila pertama Pancasila (sebagai konsensus publik) jelas-jelas menghendaki agar nilai-nilai Ketuhanan mendasari kehidupan punlik-publik," ungkap Hartini.


Sementara itu, Negara juga diharapkan melindungi dan mendukung pengembangan kehidupan beragama dan berkeyakinan, sebagai wahana untuk menyuburkan nilai-nilai etis dalam kehidupan publik. Namun demikian, Pancasila pun tidak menghendaki perwujudan negara agama, yang merepresentasikan salah satu aspirasi kelompok keagamaan.

"Karena hal itu akan membawa tirani keagamaan yang mematikan pluralitas kebangsaan, dan menjadikan pengikut agama lain sebagai warga negara kelas dua," kata Hartini. (dade)

 

Statistik Pengunjung

7397677
Hari ini
Minggu ini
Semuanya
2746
55447
7397677
IP Anda: 54.198.27.243

Facebook