JS Financial News - шаблон joomla Новости
Selasa, 23 Januari 2018

JAKARTA, kabarsebelas.com -- Pangkoopsau I Marsekal Muda TNI Yuyu Sutisna, S.E.,M.M. menilai bahwa, operasional bandara Halim Perdanakusuma saat ini sudah terlalu padat, semrawut dan over capacity. Untuk itu Pangkoopsau I, berinisiatif mengundang para pengelola yang terlibat dalam operasional bandara Halim Perdanakusuma untuk membahas permasalahan operasional Bandara yang sudah padat dan mulai mengkuatirkan safety penerbangan, Rabu (25/5), di Ruang Rapat Suryadarma Makoopsau I, Jakarta.


Sementara itu, rapat koodinasi bandara Halim ini dipimpin langsung oleh Pangkoopsau I dan dihadiri oleh Para Pejabat Makoopsau I, Pejabat Lanud Halim Perdanakusuma, otoritas bandara, Angkasa Pura II, Air Navigation, para operator penerbangan seperti Batik Air, Citylink, Sriwijaya Air dan operator penerbangan sipil lainnya baik yang reguler maupun charter.


"Mengawali rapat Pangkoopsau I secara tegas mengatakan bahwa, rapat koordinasi yang dilaksanakan adalah untuk membahas permasalahan yang terjadi saat ini di bandara Halim Perdanakusuma, khususnya untuk keselamatan penerbangan/safety’’.   “No Offence, No Personal Interest, It Only Abaut Safety”," kata Yuyu.


Setelah rapat di buka oleh Pangkoopsau I, selanjutnya masing-masing operator yang terlibat dibandara Halim Perdanakusuma diberikan kesempatan untuk paparan yang terkait di bidangnya dalam pengelolaan bandara. Paparan di mulai dari pihak Lanud Halim, Angkasa Pura, Air Navigation, Otoritas Bandara, setelah itu baru dilaksanakan diskusi membahas persoalan Bandara Halim, yang intinya untuk mencari solusi dengan prioritas safety, security dan pelayanan.


Sementara itu, Kadis Ops Lanud Halim, Kolonel Penerbang Damanik mengatakan pihak TNI AU dalam hal ini Lanud Halim Perdanakusuma menyampaikan data dan fakta tentang kegiatan operasional Skadron Udara TNI AU, operasional penerbangan reguler, serta operator penerbangan carter/kargo di kaitkan dengan kesiapan infrastuktur yang ada di bandara serta kaitan dengan slot jadwal penerbangan. Dari paparan tersebut di sampaikan bahwa kegiatan penerbangan di bandara Halim sudah sangat padat dan pengelolaan parkir, ruang tunggu dan check in sudah tidak kondusif lagi. “Satu hal yang sangat penting akibat dari sumua hal tersebut menyebabkan latihan penerbangan TNI AU menjadi terganggu, seperti dari 7 Flight di rencanakan, hanya mampu dilaksanakan 3 sampai 4 sorti saja. Kondisi ini menyebabkan profisiensi para penerbang mengalami degradasi," katanya.


Selanjutnya dari pihak Angkasa Pura II menyampaikan bahwa, operasional bandara Halim memang sudah Over Capacity, terutama jadwal penerbangan dari jam 06.00 sampai 12.00 yang sudah melewati batas normal. Untuk itu pihak Angkasa Pura sudah melakukan berbagai langkah untuk mengatasi padatnya jadwal penerbangan dan kesemrawutan dalam melayani pelanggan seperti ruang X-Ray, Waiting Room, Ruang Check in, dan fasilitas parkir.


"Untuk itu pihak Angkasa Pura menyampaikan agar dilakukan reschedule dan penataan infrastuktur yang saat ini sudah tidak memadai lagi. Dari pihak Air Navigation mengakui kepadatan yang terjadi dalam pengaturan penerbangan baik penerbangan militer maupun sipil, bahkan mereka mengatakan berdasarkan kondisi saat ini agar tidak ada lagi slot penambanhan jadwal penerbangan," ujar Damanik.


Pihak ATC secara tegas mengakui sudah kewalahan dalam melayani penerbangan dan kondisi ini apabila di biarkan akan dapat berakibat fatique bagi operator ATC dan ini dapat berakibat fatal bagi keselamatan penerbangan. Dalam diskusi antar pihak yang terlibat pengelolaan bandara, semuanya mengakui bahwa, operasi bandara Halim saat ini sudah over capacity dan semua pihak sepakat untuk melakukan penataan dan penambahan infrastuktur serta reschedule jadwal penerbangan reguler selama kondisi bandara masih seperti saat ini, maka tidak ada penambahan jadwal penerbangan dan penambahan operator penerbangan baru.


Diakhir rapat Pangkoopsau I selaku penguasa wilayah dan bertanggung jawab terhadap keselamatan penerbangan secara tegas mengatakan bahwa.

 

“Saat ini dengan melihat kondisi padatnya jadwalnya penerbangan dan keterbatasan infrastruktur pendukung, maka harus dilakukan penataan kembali pengelolaan bandara Halim untuk keselamatan penerbangan, baik penataan jadwal penerbangan dan fasilitas pendukung seperti pengaturan lalu lintas udara, pengaturan ground movement pesawat, kapasitas bandara, pengaturan parkir dan traffic scheme," ungkapnya.


Oleh karena itu, kejadian-kejadian yang terjadi di bandra seperti accident Batik Air dengan Trans Nusa dan lainya merupakan suatu warning bagi kita semua untuk tidak main-main dengan masalah safety atau keselamatan penerbanagan.

 

"TNI AU menyadari penggunaan Bandara Halim sebagai enclave sipil juga bermafaat bagi masyarakat luas dan menopang padatnya Bandara Soekarno Hatta. Hal tersebut tidak boleh mengabaikan faktor keselamatan penerbangan," kata Damanik. (dade)

Statistik Pengunjung

5872598
Hari ini
Minggu ini
Semuanya
969
15920
5872598
IP Anda: 54.83.81.52

Facebook