JS Financial News - шаблон joomla Новости
Minggu, 23 September 2018

KABARSEBELAS.COM- Sejatinya pendidikan adalah untuk mencerdaskan anak bangsa, membebaskan negara dari penindasan dan kebodohan, untuk kemudian membangun suatu bangsa dan negara yg kokoh, berdaulat, adil dan makmur. Jika hari ini pendidikan bukan untuk membebaskan, melainkan menjadi wahana pembodohan, pabrik2 yg memproduksi mesin2 kapitalis, lantas apa yg bisa kita banggakan dari terbangunnya sekolah2 dan perguruan tinggi dgn gedung yg menjulang tinggi? Sarjana2 tak mampu menyelesaikan masalah2 sosial, ekonomi, politik, dan berbagai problema realitas yg ada, para penguasa sibuk menyusun strategi untuk merebut atau mempertahankan kekuasaannya, berlomba lomba dalam merauk uang negara untuk kepentingan pribadi maupun kepentingan golongannya, para mahasiswa di hegemoni oleh sistem yg memenjarakan mereka dr ruang2 mengeksplore diri, setiap harinya mereka harus mengerjakan tugas di luar kemampuannya agar tak ada waktu untuk mereka berserikat, merenung dan berdiskusi memikirkan persoalan rakyat dan negara.

 

Biaya sekolah / kuliah yg mahal sengaja dijadikan senjata agar mereka tdk bisa menunda kelulusannya, karena org tua yg telah bersusah payah untuk mencukupi biaya sekolah / kuliah mereka, para perempuan yg dulunya hanya di tuntut untuk merawat dapur, sumur dan kasur, hari ini, di balik dalih kesetaraan, perempuan harus berpendidikan, berkarir bagus juga pandai melayani suami dan mertuanya, kedudukan ibu rumah tangga di pandang rendah dan tdk di anggap sebagai profesi.

 

Hari pendidikan nasional, tentunya harus mampu menjadi alarm untuk refleksi atas apa yg tengah terjadi di negri tercinta ini. Gerakan mahasiswa tdk boleh terputus dengan gerakan massa, semua problematika harus saling terkomunikasikan, buruh, tani, nelayan, pelajar, mahasiswa harus sadar dan bergerak bersama, menuju Indonesia Baru. Karena merdeka hanya akan menjadi utopis belaka, selama tirani masih berkacak pinggang di negri ini.

 

Perempuan harus cerdas dan berpendikan untuk sebuah pembebasan, pembangunan karakter bangsa, bukan untuk menjadi budak2 kapitalis yg bisa di andalkan.

 

Jawa Barat, yg hari merupakan provinsi dgn angka terbanyak yaitu 16% dari sekitar 64% bonus demografi di seluruh kepulauan Indonesia seharusnya mampu menjadi tolak ukur kemajuan ekonomi, sosial dan pendidikan, namun sayangnya, Jawa Barat masuk 3 besar kategori provinsi angka tertinggi pernikahan anak , ini merupakan PR besar untuk kita semua khususnya KOPRI untuk bahu membahu menyadarkan masyarakat Indonesia terkhusus Jawa Barat akan pentingnya pendidikan bagi putra putri bangsa untuk menyambut bonus demografi Indonesia dengan kualitas SDM yg siap menghadapi tantangan zaman

 

Rizkiah

Bidang Komunikasi antar Organ Gerakan, Kepemudaan & Perguruan Tinggi

 

Mengetahui:

Apriyanti Marwah

Ketua KOPRI PKC Jawa Barat.(Red)

Statistik Pengunjung

7463356
Hari ini
Minggu ini
Semuanya
411
411
7463356
IP Anda: 54.198.23.251

Facebook