Wakil Ketua 1 DPRD Karawang Terima Kungker DPRD Aceh Singkil

Karawang, Kabarsebelas.com – Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Karawang menerima kunjungan kerja DPRD Aceh Singkil, Kamis (4/7/2019) di ruang rapat DPRD Karawang.

Wakil Ketua 1 Sri Rahayu menerima langsung kunjungan kerja rombongan anggota DPRD Aceh Singkil. Turut hadir juga Kabag Hukum Pemkab Karawang Neneng Junengsih, Dirut PDAM M Sholeh dan beberapa pejabat Pemkab Karawang.

Disampaikan ketua 1 DPRD Karawang Sri Rahayu Agustina, bahwa Kunjungan kerja DPRD Aceh Singkil menanyakan soal bagaimana menaikan pendapatan Asli Daerah (PAD) karena APBD mereka masih kecil di kisaran di bawah 1 Miliar beda dengan APBD Karawang yang sudah mencapai 4 Trilyun lebih.

Kemudian mereka juga menanyakan soal BUMD terutama persoalan PDAM, kemudian Pertanian, Perikanan, Perindustrian, UMKM dan juga perizinan, karen di sana itu lebih sulit untuk mendapatkan perizinan.

Sementara untuk UMKM di Karawang BPR hari ini telah memberikan solusi untuk pemberantasan bank emok dengan memberikan pinjaman secara lunak kepada masyarakat tanpa pengembalian. Tetapi masyarakat di wajibkan menabung di BPR.

Sementara untuk PDAM di Karawang sekarang sudah banyak terobosan walapun di kepemimpinan sekarang baru berjalan 10 bulan, namun, sudah banyak memberikan terobosan.

“PDAM di Karawang semenjak serah terima jabatan, baru sepuluh bulan berjalan di Kepemimpinan Sholeh, tapi terobosannya luar biasa, pada saat serah hanya terima di angka 1,2 Miliar, itu pun untuk gaji pegawai tidak cukup akhirnya mereka membuat terobosan dengan menagih kepada pelanggan tanpa denda. Kalau stabil belum ya, tapi ini upaya yang bagus untuk memperbaiki, “Kata Sri.

Sementara Wakil Ketua DPRD Aceh Singkil, Julianto mengatakan bahwa kunjungan ke DPRD Karawang untuk belajar soal industri, kelautan, umkm, perkebunan, perda PDAM dan banyak perda.

“banyak yang kita dapat disini, perda PDAM, perda pertanian, retribusi, pokoknya banyak yang kita dapat disini, “Kata Julianto

“Contoh, seperti harga air disini dimurahkan di Aceh mahal, di subsidi juga, tapi tidak jalan, tetap rugi, dari sini kita dapat, biar murah tapi lancar, “jelasnya. (red)