Pejuang Kemerdekaan Dibalik Layar Luput Perhatian Pemerintah Daerah

Karawang, Kabarsebelas.com – Selama 74 tahun Negeri ini telah merdeka. Namun, kemerdekaan itu tidak serta merta didapatkan begitu saja. Perjuangan dan pengorbanan yang berupa nyawa, darah, keringat dan air mata telah dicurahkan demi meraih kemerdekaan yang hakiki.

Banyak orang menilai para pahlawan adalah mereka yang berjuang mengangkat senjata melawan penjajah. Padahal ada jasa para pejuang di ‘balik layar’ seperti mereka yang selalu mengantarkan makanan dan surat kepada para pejuang yang sedang tempur atau bersembunyi dihutan pada saat berjuang.

Seperti diungkapkan, Ukarnah (84) warga Cicinde Utara, Kecamatan Banyusari, Karawang, yang akrab disapa Mak Ukar, walaupun usianya sudah renta namun masih mengingat kenangan saat bangsa Indonesia melawan penjajahan Belanda dan Jepang.

Saat ini, Mak Ukar diusia yang sudah sepuh tidak berdiam diri, masih mampu berjalan jauh, sehari-hari membuat bunga kertas dari sisa-sisa kertas yang dibuang, lalu dirangkai menjadi bunga dan dijual untuk sekedar uang saku dari pemerian pemesan.

Bahkan, Mak Ukar mengaku masih mengingat bahasa Belanda walaupun sepotong-sepotong, dan pendengarannya saat ini masih normal saat dijumpai di rumahnya dengan didampingi sang putra, ia menuturkan saat dia berjuang di balik layar kemerdekaan Negri ini.

Cerita anak ketua kampung di Kampung Cisital, Desa Cimayasari, Kecamatan Cipendey, Subang, saat masih bersuai 5 tahun, sudah ikut berjuang dibalik layar dengan mengirim makanan untuk para pejuang yang sembunyi di area pesawahan dan juga sembunyi dibalik hutan Lingga.

“Waktu masih dijajah Belanda usia emak masih 5 tahun, tugas emak sering membawa makanan untuk pejuang yang sembunyi, kadangkala memberikan surat dari TNI untuk disampikan kepada pejuang,” kata Mak Ukar, Sabtu (10/8) ditempat tinggalnya, di Banyusari, Karawang.

Ia menceritakan, setiap mengirim makanan pesanan untuk diberikan kepada pejuang oleh bapaknya, Mak Ukar berusaha jalan jauh supaya makanan itu sampai kepada pejuang yang sedang sembunyi bersama dua teman gadisnya Sarneci dan Sarkonah. Kerap kali ia sering bertemu Belanda (penjajah-red) dan meberikan roti yang ada di balik bakul yang ia bawa.

“dulu, setiap jalan mengantarkan makanan kepada pejuang selalu bertiga, namun dua temannya sudah menghadap ke Hyang Tunggal, saat ini,” katanya.

Wanita renta berumur 84 tahun ini masih ingat betul dalam kerutan di dahinya, ia mendapat pesan dari TNI saat mau mengntarkan surat kepada para pejuang, ketika bertemu dengan Belanda dan Jepang harus berusaha untuk menyembunyikan apapun.

“Darah daging sebagai bangsa Indonesia, emak tidak ada rasa takut saat ikut berjuang membawa pesan maupun makanan,” tegasnya.

Memang tidak mudah, bagi wanita ini saat masih menginjak usia mudanya, membawa makanan ataupun pesan bagi para pejuang yang bersembunyi dari incaran para penjajah.Tetapi dengan tekad yang kuat sebagai anak Ketua Kampung makanan dan pesan harus sampai kepada pejuang.

Mak Ukar, merupakan satu dari sekian banyak pejuang yang merasakan pahitnya masa-masa penjajahan Belanda dan Jepang, dalam merebut kemerdekaan.

Namun sayangnya, perjuangan seperti dianggap sebelah mata oleh pemerintah Daerah setempat. Bahkan dia tidak terdafar sebagai veteran. Alasannya karena keluarga dinilai cukup mampu, bukan masuk dalam daftar merah atau keluarga kurang mampu, karena bapaknya Uju Juhari hanya sebagai ketua kampung.

“Emak dulu kalau bawa makanan itu harus disembunyikan di dalam kayu bakar, atau daun pisang, itu bolak balik mencari pejuang untuk memberikan makan. Saat balik, kayu bakar itu harus dibawa lagi, biar tidak ketahuan tentara penjajah,” ujarnya.

Suka dan duka terus dialami Mak Ukarnah semasanya, untuk memberikan makan kepada para pejuang. Sukanya, di mana mampu membantu para pejuang untuk memberikan tenaga melalui makanan. Sedangkan dukanya jika ketahuan para penjajah, tentu ancaman berat bakal diterima.

“Kalau zaman Jepang itu masih mending, tapi kalau zaman Belanda lebih keras, karena dibawah jajahan Belanda yang mengalami langsung,” tuturnya.

Dia juga menceritakan pada zaman Jepang, ikut bersama uwak di Bandung dan dengan identitas baru sebagai anak uwak akhirnya bisa mengenyam pendidikan di sekolah rakyat hingga lulus.

“Zaman Jepang sudah masuk sekolah rakyat di Bandung, ikut kakaknya bapak, ” tutur Ibu dari lima anak.

Lepas dari itu, Indonesia akhirnya merdeka dengan penuh. Namun tak begitu bagi Mak Ukarnah, tak ada penghargaan yang diterimanya. Pengorbanan dan perjuangannya yang dikibarkannya seakan dilupakan.

Mak Ukarnah hilang di tengah gegap gempita kemerdekaan, sungguh sayang, perjuangan berat Mak Ukarnah ini tidak mendapatkan penghargaan apapun, tidak seperti pejuang-pejuang lain yang mendapatkan penghargaan sebagai veteran.

“Dulu memang ada pendataan, tapi memang tidak ada yang mengurus, dan harus mengeluarkan biaya akhirnya tidak jadi mendaftar,”kata Mak Ukar.(nand)