by

KBC : Cellica Hanya Besar Dalam Bayangan

-Politik-710 views

Karawang, Kabarsebelas.com – Konstalasi politik kian memanas measuki 2020 tahun politik di Kabupaten Karawang. Isue isue yang beririsan dengan bakal calon petahana baik Bupati maupun wakil bupati terus bermunculan. Tiba tiba muncul berita Ahmad Zamaksyari berpasangan dengan Gina Fadlia Swara, selanjutnya rumor Cellica telah memilih H Aep Saepullah untuk mendampinginnya di Pilkada Karawang.

Berita-berita media dan obrolan warga pun berkisar tentang prediksi koalisi partai dan figur-figur peminat kursi Bupati, sehingga disengaja ataupun tidak, gejala tersebut telah menggerus dan menyingkirkan nalar sehat publik dalam mengkritisi produk-produk kebijakan dan realisasi capaian visi-misi pemerintahan Cellica-Jimmi.

Menurut Durektur Karawang Budgeting Control (KBC) Endang Ayaet, yang cukup menarik dan menggelitik isi kepala ini adalah prediksi dan klaim kemenangan Cellica. Jika diambil dari sudut pandang agama stetmen tersebut bisa dikategorikan takabur dan udzub, ya itulah politik, karena pilkada adalah perhelatan politik yang penuh siayasat.

Endang menganggap, pengakuan sejenis itu sangat biasa dilakukan oleh Bakal calon incumbent dan loyalisnya sebagai metode psywar (perang psikologis) untuk menjatuhkan ketahanan mental calon penantang ataupun jurus propaganda dalam menyihir publik.

“Intinya, berita ‘hiperbola” kemenangan Cellica sebelum bertanding, merupakan strategi politis dalam mencekoki pikiran warga Karawang agar berhalusinasi tentang hasil Pemilukada Karawang di bulan September nanti,”Ujar Direktur KBC Endang Ayaet, Minggu 26/1/2020.

Lanjut Endang, mengapa KBC menganggap statemen tersebut sebagai halusinasi? Direktur KBC mengajak untuk terlebih dahulu netralisir pikiran keberpihakan. Rasionalisasi berdasarkan hasil pengamatan dan dinamika yang berkembang serta diskusi panjang pada internal KBC yaitu

1. Cellica menawarkan posisi cawabup ke banyak orang. Gaya seperti ini menjadi pertanda bahwa Cellica masih gamang dan tidak yakin terhadap keunggulan dirinya sendiri, sehingga dia membutuhkan pasangan yang dianggap mampu menutupi kelemahannya, terutama sekali untuk mensupport kekuatan jejaring sosial dan kebutuhan logistik atau amunisi.

2. Keunggulan survei Cellica sangatlah tidak aman untuk seorang calon incumbent. Buka kembali ingatan kita tentang Pilpres 2019. Betapa Tim Jokowi masih gusar dengan angka kemenangan hasil survey dibawah 60 persen, sebab dalam perspektif lembaga survei, seorang incumbent memiliki banyak waktu dan fasilitas “terselubung” untuk mempengaruhi pikiran pemilih, sehingga calon petahana dianggap memiliki angka aman jika mencapai 70 persen ke atas.

Cellica sudah berkuasa selama lima tahun, dan selama itu pula cellica bersosialisasi (berkampanye) menjajakan dirinya. Tentu jauh berbeda dengan cara menilai kita terhadap figur-figur yang muncul berkampanye dengan waktu relatif pendek.

Prediksi angka 50 persen Cellica yang dirilis salahsatu lembaga survei, sangatlah jauh dari harapan, karena angka tersebut diperkirakan stagnan bahkan secara bertahap bakal mengalami penurunan seiring dengan massif-nya calon-calon penantang, juga record kinerjanya yang tidak terlalu memuaskan publik.

Mayoritas responden pemilih cellica berasosiasi (faktor yang muncul dalam benak) pada branding personal, semisal dianggap humbel, cantik, sopan, ramah, bijaksana, merakyat, dan seterusnya. Sejatinya penilaian-penilaian seperti itu diarahkan pada setiap manusia, bukan hanya jadi tolak ukur dalam memilih pemimpin (bupati).

Ironis memang, mereka yang memilih Cellica hanya disebabkan mengenalnya sebagai Bupati mencapai 71 persen, sedangkan yang menganggap bagus kinerjanya hanya 0,3 persen. Belum lagi bila kita kerucutkan alasan responden memilih calon bupati, ternyata hanya 12 persen saja yang didasarkan pada penilaian kinerja. Sangat jomplang dan tidak rasional.

3. Cellica kehilangan respect dan daya tarik bagi partai pengusungnya saat Pilkada 2015.
Sebagai bahan perbandingan, Karawang Budgeting Control kembali memutar ulang dinamika Pilpres. Pada Pilpres 2014, Jokowi hanya diusung PDIP, PKB, Hanura, dan Nasdem. Namun saat akan berlaga di Pilpres 2019, migrasi partai pengusungnya bertambah luar biasa. Tercatat Golkar, PPP dan PBB pun akhirnya berlabuh di koalisi Jokowi. Artinya, bahwa selama menjalankan kekuasaan, Jokowi mampu mengkonsolidir kekuatan lama dan menarik energi dukungan baru.

Fenomena ini tidak terlihat dalam hingar-bingar Pilkada Karawang, setidaknya sampai pertengahan bulan Januari. PKB yg dulu bareng, detik ini dipastikan cerai muda karena mengusung kader internalnya. PAN yang di Pilkada 2015 mengambil start awal deklarasi dukungan ke Cellica, hari ini masih terlihat dingin dan bergerilya mencari figur alternatif. Lalu PKS dengan gerbong pendukung militannya terlihat masih tarik ulur membuat pancingan dan syarat dukungan, simpelnya mereka bisa kembali mendukung cellica, asal cawabup-nya adalah kader rekomendasi PKS. Demikian pula dengan PPP langkahnya hampir serupa dengan PAN, semaksimal mungkin mencari figur-figur baru untuk diusung dan dimenangkan.

Tentu realitas politik seperti ini, menegaskan bahwa Cellica tidak juga belajar dari gaya wisdom seorang SBY yang cermat dalam mengkonsolidir merawat para pendukungnya serta menarik minat gerbong baru, semisal PDI Perjuangan yang secara riil adalah partai penguasa secara nasional.

4. Perkembangan terhangat yakni kemunculan orang-orang dekat cellica yang kemudian tanpa diduga berani deklarasi berseberangan melawan Cellica. Terlepas apapun motivasi sebenarnya, namun gejala ini diprediksi akan banyak menggerus konsentrasi dan energi Cellica, baik itu dalam hal membentengi issue yang nanti akan diekploitasi oleh orang dekat tersebut, maupun menjaga migrasi basis pemilihnya.

Empat point diatas adalah edisi pertama hasil kajian KBC mengenai rekayasa kekuatan sang Petahana. Pointer lainnya akan dikupas secara bertahap.

Kesimpulannya, bahwa Pilkada Karawang yang menurut beberapa pihak sudah bisa dipastikan pemenangnya, justru menurut kami akan berjalan lebih seru dibandingkan dengan Pilkada periode lalu.

“Alasannya karena Cellica itu hanya sosok yang kuat dalam bayangan, padahal sebenarnya Cellica lebih rapuh dari sarang laba-laba,”pungkasnya.(red/rls)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

13 comments

  1. I nevertheless have got a problem with your leaps in logic and one might do nicely to fill in all those gaps. When you actually can accomplish that, I would surely be fascinated. However, Domain Authority (Moz) is a parameter to check the ranking in Google. If you want to increase your DA at very low cost, please check out on profile link.

News Feed