by

Kampung Nanga Nae Jadi Jalur Tikus Pengiriman Sapi Ilegal, Ini Faktanya

Ruteng, Kabarsebelas.com – Kampung Nanga Nae, Desa Paralando, Kecamatan Reok Barat, Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur (NTT) diduga menjadi tempat pengiriman sapi ilegal di Manggarai.

Kampung yang terletak di pesisir pantai utara Kabupaten Manggarai itu diduga dijadikan jalur tikus dan pelabuhan tikus bagi oknum pemilik sapi ilegal.

Dari hasil penelusuran Wartawan, Rabu (17/02/2021) terkuak sejumlah fakta yang menguatkan dugaan tempat pengiriman sapi ilegal itu, yakni;

Pertama, di Kampung Nanga Nae terdapat sebuah kandang sapi berukuran kurang lebih panjang 25 meter dan lebar 20 meter. Kandang tersebut dipakai oleh CV Divani Jaya diatas lahan milik Bapak Haji Mustaji Puna. Kandang itu pun diduga dijadikan tempat penampung sapi ilegal di Manggarai sebelum dikirim ke luar daerah.

Kedua, di Kampung Nanga Nae juga terdapat jalan masuk kurang lebih 300 meter menuju kali kecil tempat pelabuhan tikus. Jalan itu diduga menjadi akses masuk pengiriman Sapi-sapi ilegal.

Ketiga, kali kecil yang diduga digunakan sebagai pelabuhan tikus itu merupakan titik perbatasan Desa Paralando dan Desa Lemarang.

Keempat, kali kecil itu merupakan bantaran kali Wae Kuli Desa Lemarang, Kecamatan Reok Barat

Kelima, pelabuhan tikus tersebut sudah berjalan kurang lebih hampir 2 tahun hanya aktivitas pengiriman sapi ilegal kerap lolos dari pengawasan Bea Cukai dan pihak berwenang.

Beberapa fakta tersebut juga dibenarkan oleh salah seorang warga Desa Paralando, Jumain.

Ia mengatakan sudah hampir dua tahun Kampung Nanga Nae menjadi tempat penyelundupan sapi-sapi ilegal.

Sapi-sapi ilegal tersebut, kata Dia, ditampung di kandang milik Haji Mustaji Puna sebelum dikirim ke luar.

“Sapi-sapi itu datang dari arah Reok terus masuk ke Nanga Nae untuk ditampung disana sebelum dikirim” kata Jumain kepada Wartawan di Desa Paralando.

Ia juga mengaku bahwa Sapi-sapi tersebut sering diangkut oleh mobil yang berkapasitas besar, bahkan sehari datang bisa sampai malam.

“Belakangan ini banyak Mobil pemuat Sapi yang lewat kesana. Awalnya saya tidak tahu sapi itu ilegal atau tidak tetapi setelah membaca berita bahwa ada penangkapan di Bima maka saya yakin sebagian dari sapi tersebut tak mengantongi izin legal” tuturnya.

Sementara itu Haji Mustaji Puna saat ditemui Wartawan di Kediamannya membenarkan bahwa kandang sapi milik CV Divani Jaya itu dibangun diatas lahan miliknya.

“Ia itu lahan saya yang dipakai oleh CV Divani Jaya untuk menampung sapi” kata Haji Mustaji.

Ia mengaku bahwa dirinya dibayar oleh CV Divani Jaya sebesar Rp. 2.500.000 per tahun sesuai kesepakatan awal.

“Lahan saya dipakai oleh CV Divani Jaya. Janji awalnya bayar Rp 2.500.000 dan itu sudah saya terima” ngakunya.

Saat ditanya terkait aktivitas pengiriman sapi ilegal dirinya mengaku tidak pernah mengetahui aktivitas itu dan tidak pernah terlibat didalamnya.

“Jujur saya ini hanya orang bodok yang tidak tahu menahu soal itu Pak. Saya hanya menyerahkan lahan saya yang dipakai oleh CV. Jika saya dituding sebagai penadah atau sebagai pihak yang turut mendukung aktivitas ilegal itu maka saya membantah keras” ungkapnya. (Berto Davids)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

1 comment

News Feed